Senin, 05 April 2021

Memori

Hari itu aku mencaci diriku sendiri

Memeras air mata sejadi-jadinya

Tak guna membenci, kemudian aku memutuskan untuk mengampuni


Aku memilih berdamai

Ini pilihan yang telah aku ambil

Aku tak mungkin bisa kembali


Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan terus berjalan

Melipat penyesalan, meletakkannya dibagian terdalam tas ransel yang kugendong

Sedikit lagi, tidak lama, kita akan sampai.

Senin, 01 Februari 2021

Kejutan Akhir Tahun

Pengalaman baru yang tak terduga ini, tidak mungkin akan aku lupakan.
Sekalipun artinya aku akan mengenang pula kebodohan ini selamanya. 
Tak aku sangka segala yang dulu aku kutuk, kini datang menghampiri. 
Seperti karma menuntut balas. 
Seperti menguji bagaimana aku menghadapi. 
Meski kepalaku penuh dengan tanya dan kutuk, aku memilih menampakkan tenang. 
Untuk pertama kalinya, aku memilih menyimpan ini baik-baik. 
Tak membiarkan seorang pun tau. 
Bukan karena aku takut mereka akan mengutukku. 
Aku hanya takut mematahkan hati mereka, merenggut senyum yang selama ini susah payah aku coba untai. 
Dan aku memilih remuk, berserak di lantai kamar. 

Tak aku sangka, aku melaluinya tanpa banyak keluhan. 
Sungguh baik Ia pengertian, tak menyusahkan. 
Sungguh aku mencintaimu, meski aku tau aku tak bisa memilikimu selamanya. 
Terima kasih telah hadir, terima kasih untuk hari-hariku yang tak sendiri. 
Terima kasih pengalaman baru yang mendebarkan namun seru. 
Berjuta maaf tak akan mampu menepiskan kesalahanku. 

Percayalah, Aku sayang kamu. 
Sungguh aku tidak membencimu. 
Aku benci kebodohanku. 
Aku benci keadaanku. 

Senin, 03 Agustus 2020

Reciprocal

among all the choices to hate you, I choose to love.
among all the reasons to leave you, I choose to stay.

listen carefully,
I might not be able to hold this for too long.
soon, I'll get drained and tired.
soon, I might feel stuck and need to move forward.

however, I still want to hold your hand as far as I can,

and I know exactly how it feels to be left behind,
I hope you don't have to experience it yourself.

Be here, be grateful,
Appreciate what you have while it lasts.

Senin, 10 Februari 2020

Kisah di balik layar

Entah apa mau isi kepala ini
Saat di rumah aku mendamba mereka yang tinggal sendiri
Saat jauh dari rumah, aku merindu mereka yang aku tinggalkan
Kenapa pikiran tak pernah letih membandingkan keadaan
Atau karena kita terbiasa begitu?

Mungkin sudah saatnya mendengarkan pesan para biksu
Aku harus lebih banyak belajar meninggalkan kenyamanan
Aku harus lebih banyak melakukan yang tak biasa kulakukan
Aku harus lebih banyak memahami apa yang kurasakan

Mataku terlalu sibuk memandang layar
Melihat mereka yang tak dekat
Dan tak sempat melihat apa yang di sekelilingku
Bukankah mereka yang benar-benar hadir yang semestinya memperoleh lebih banyak perhatianku

Mereka yang tampak di layar, sedang menyembunyikan kegelisahan hari ini
Mereka bilang bahagia hari ini, beberapa saat setelah mengusap air mata
Mereka bilang terima kasih atas rejeki hari ini, beberapa saat setelah mensyukuri yang tersisa dari yang terampas
Mereka bilang makan nikmat hari ini, beberapa saat setelah cukup lama menahan lapar

Mereka tak sempat menyiapkan kisah di balik layar untuk ditampilkan di depan layar

Rabu, 05 Februari 2020

Palu, Januari 2020

sekitar satu tahun yang lalu, aku menawarkan diri sebagai volunteer di kota ini 
kota yang diguncang bencana begitu luar biasa
saat itu, Tuhan tidak keluarkan surat izin
aku hanya bisa diam di rumah

hari ini, aku di sini, menangani pasca bencana
satu tahun lebih sudah berlalu, 
kota ini belum benar-benar pulih
puing-puing bangunan masih terhambur
kepedihan mereka masih belum murni hilang 

menyaksikan sendiri sisa-sisa bencana
menegakkan bulu kuduk 
Tuhan begitu luar biasa
tak satu pun sanggup melawan 


Rabu, 20 Februari 2019

Unsent love letter

Terima kasih untuk waktu yang pernah kita lalui bersama
Terima kasih untuk setiap pesan yang terbalas
Terima kasih untuk hembusan nafas bagi kupu-kupuku
Terima kasih untuk obrolan yang menyenangkan
Terima kasih untuk telinga yang mendengarkan
Terima kasih untuk kehadiran dalam mimpi
Terima kasih untuk menjadi yang pertama hadir saat membuka mata
Terima kasih untuk menjadi yang terakhir hadir saat mata terpejam

Terlebih dari semua itu....

Terima kasih telah membantuku mengenal diri lebih baik
Terima kasih telah memotivasiku memperbaiki diri
Terima kasih telah mengajarkanku bersyukur
Terima kasih telah mendekatkanku kembali pada Pencipta


Untuk pertama kalinya aku merasakan cinta yang berbeda
Aku pikir, aku mencintai pribadi seperti yang sudah-sudah
Ternyata aku mencintai ide dan idealmu dimataku

Aku pikir, aku akan menjadi mata air di tanah gersang yang kau tunggu
Aku pikir, kita akan dapat menyatu
Ternyata aku hanya angin yang berhembus memberi sedikit kesejukan dikala terikmu

Tapi kamu bagiku adalah sebuah petualangan baru di negara tak terduga
Aku seperti tak mengenal arah, tak tau harus kemana melangkah
Sekaligus menjadi perjalanan yang paling penuh kejutan

Tapi kamu bagiku adalah sebuah labirin
Aku mencoba semua jalannya
Namun tetap tersesat

Ah, jangan percaya apa yang baru saja aku tuliskan
Aku tak pandai mengutarakan

Hanya satu yang harus kamu tau
Namamu sudah ada dalam doaku sejak enam bulan yang lalu


- 200219. Surat menjelang lelap.

Jumat, 21 September 2018

Menunggu tanya


Hi, apa kabar?

Pesan singkat yang kemudian aku hapus cepat. Sesederhana itu pun aku tak sanggup. Tumpukan pertanyaan yang sudah memenuhi kepala, menanti dijawab, akhirnya kususun rapi. Kulipat kedua tanganku, aku sampaikan pesan pada Pimpinan. Kusampaikan kesulitanku hari ini, meminta saran apa yang harus kulakukan.

Ya, aku memang terlalu penakut untuk mengambil keputusanku sendiri. Atau mungkin aku hanya butuh diyakinkan atas keraguan yang tersimpan. Pekerjaan ini, sesungguhnya sangat kudambakan, hanya saja terlalu kecil nyali untuk meminta.

Bersediakah menanti? Sampai aku cukup bernyali menghadapi pasang-surutnya. Atau paling tidak sampai aku sanggup menyampaikan pesan gembira yang kau tunggu itu.

Ya, aku tau kau menunggu pesan itu sejak lama. Aku tau pula bahwa pesan gembira ini sebaiknya cepat disampaikan. Percayalah, aku paham betapa menyebalkannya menunggu. Tapi terbata lidahku setiap berhadapan denganmu. Ataukah sebetulnya aku pun menunggu, menunggumu bertanya.

Ya! Coba bertanyalah! Barangkali aku sanggup menjawab.

Jumat, 14 September 2018

Cerita Kembara


Kehidupan adalah sebuah pengembaraan,
Dalam perjalanan kali ini Tuhan pertemukan kita di jalan yang sama,
Kita bertegur sapa dan berbagi cerita,
Aku pun mensyukuri dan menikmatinya,
Sebab kamu datang tidak sia-sia,
Kehadiranmu membantuku melewati jalan berliku dan terjal ini,
Paling tidak aku tak merasa berjalan sendiri,
Namun, seperti perjalanan-perjalanan lainnya,
Kita tak tentu selamanya melewati jalan yang sama,
Sekalipun tujuan kita mungkin satu,
Tak apa, aku tak akan memintamu tinggal,
Berjalanlah bersamaku jika itu yang kamu mau,
Mari melakukan perjalanan bersama jika Kau rasa Aku bisa jadi teman yang menyenangkan,
Pergilah, kemana pun Kau suka, jika perjalananmu bersamaku tlah Kau rasa cukup,
Kutitipkan kamu pada semesta, agar Ia yang selalu menjagaimu,
Akan kukenang kebaikan hatimu,
Semoga semesta pertemukan kita lagi bersama dengan cerita baru,


Bila kamu bertahan, memilih berjalan bersamaku,
Kutitipkan cintaku pada semesta, agar Ia yang menguatkan,
Mari genggam tangan, berjalan berdampingan,
Entah kemana ujung perjalanan, 
Mari sambut mesra bisikin semesta. 


Sebuah catatan digital, 240818. 18.56.

Sabtu, 18 Agustus 2018

Kamu, Aku dan Tuhan

Sapamu yang mengejutkan sekian tahun lalu
Kunjunganmu yang tak kupersiapkan sekian tahun lalu
Pertanyaan-pertanyaan ngawur bernafaskan kegelisahan yang kutujukan padamu sekian tahun lalu

Sapamu beberapa waktu lalu
Pertemuan kita waktu itu
Perbincangan kita setelahnya

Aku tak pernah menyangka
Aku tak berani berprasangka
Aku hanya mampu mensyukurinya

Terima kasih untuk waktu yang kau sempatkan
Telinga yang mendengarkan
Nasihat yang diberikan

Biar Tuhan angkat segala kegelisahan
Berikan kelegaan
Tumbuhkan kekuatan dalam iman




Sebuah catatan digital, 150818. 

Senin, 16 Juli 2018

Semesta


Semesta, sekejap lalu kau buat hatiku berbunga-bunga. 
Kini aku tenggelam dalam gundah gulana. 
Mengapa aku tak pernah mampu menerka isi kepalamu?
Semesta, dengarkan lantunan doa yang kudaraskan sepanjang siang tadi. 
Semesta, ijinkan aku menikmati semua rasa itu. 
Rasa-rasa yang tak bisa aku ungkapkan. 
Yang kemudian aku tenun menjadi untaian doa. 
Semesta, ijinkan aku menikmati teriknya sinar matahari yang tanpa ampun menusuk tulang. 
Semesta, ijinkan aku menikmati setiap tetes air mata yang berderai di pipiku. 
Semesta, ijinkan aku menikmati suara debur ombak dihantam angin. 
Semesta, ijinkan aku melangkah beriringan denganmu. 

Rabu, 11 Juli 2018

Menyeberang Jalan

Hari ini, aku pulang mengantongi emosi di dalam dada. Salah satu pelangganku bersikap tidak menyenangkan. Kusempatkan melupakan dalam sebuah tulisan dalam perjalanan tadi. Turun dari angkutan kota, aku segera masuk ke agen pengiriman barang. Pekerjaanku hari ini harus tuntas semua sebelum pulang ke rumah.

Hari sudah sore, tapi matahari masih begitu menyengat. Aku terlalu lelah untuk pulang jalan kaki. Aku ambil telepon genggamku untuk menghubungi ibuku, minta tolong dijemput. Suara dari seberang memberi tahu bahwa tidak ada kendaraan di rumah. Aku lihat seorang bapak berjalan menggunakan tokat di tangan dan membawa tas di bahu, saat aku baru saja hendak menggerutu. Bapak itu berjalan ke arahku, sambil beberapa kali tongkatnya terantuk pot tanaman di pinggir jalan.

Suara dalam batinku berkata: Bapak itu perlu kamu tolong, tapi bagaimana kalau kamu disangka hendak berbuat jahat kepada Bapak itu? Apakah bapak itu akan menyambut baik bantuanmu?

"Bapak mau kemana?" sapaku.
"Mau nyebrang." balasnya dengan memelototkan mata sepersekian detik, terkejut. Mata yang indah. Biru, sejernih sumber mata air.
"Saya bantu ya, pak." kataku kemudian mengenggam lengannya.
"Mau pergi kemana pak?"
"Ke Penas, mbak, BNN. Mau naik angkot."
"Angkot 18 ya pak?"
"Iya, Mba."
"Maju pelan-pelan ya pak" sembari kutuntun beliau menyebrang jalan.
"Sudah sampai, pak. Tunggu sini dulu ya saya carikan angkotnya."
"Mba mau pulang?"
"Iya, Pak. Jalan kaki mau pulang, barusan saya juga naik angkot 18, tapi dari kampung melayu."
"Ini, sudah ada angkotnya." kataku, lalu menuntunnya menuju angkot.
"Oh iya, mbak. Terima kasih ya." katanya melangkahkan kaki ke dalam angkot.
"Hati-hati ya, Pak." teriakku.

Kulihat bapak supir angkot tersenyum ramah ke arahku dari balik pintu, lalu pergi. Sesuatu yang jarang aku dapati di hari-hari biasa.

Kusebrangi lagi jalanan yang sama, berjalan pulang.

Ah, Tuhan, manis sekali. Terima kasih telah mengajari saya bersyukur untuk hal-hal yang sederhana. Terima kasih telah mempertemukan saya dengan orang yang berbeda-beda. Semoga Bapak tadi sampai ditujuannya dengan selamat, dihindarkan dari orang-orang yang jahat dan dipertemukan dengan orang-orang baik.


Akhir-akhir ini, aku jadi belajar dan lebih tau tentang bagaimana menikmati setiap kesulitan yang aku hadapi. Menggerutu tidak membuahkan hasil, hanya membuat semakin lelah. Menikmati, mensyukuri, ternyata jauh lebih indah. Membuat hal-hal terasa lebih indah.

Aku hapus kembali tulisan luapan emosiku tadi dan pulang dengan hati gembira.

Selasa, 10 Juli 2018

I'm going to Jogja, soon!


Hi!
I’m now overwhelmed with excitement.




Yassssssss....!

Selama ini gue selalu takut dengan apapun yang berhubungan dengan seleksi, karena gue tau mostly jawabannya akan mengecewakan seperti yang udah-udah. Jadi, ketika dapet berita semacam ini gue langsung super bahagia yang ga lama kemudian berubah jadi cemas, dagdigdug serrr...


AKM ini adalah Akademi Kewirausahaan Masyarakat yang diselenggarakan oleh Creative Hub Fisipol UGM. Intinya, nanti disini gue dan teman-teman lainnya akan belajar tentang pendampingan masyarakat untuk pengembangan wirausaha dan mengembangkan aktivitas usaha sosial. Gue tau info tentang AKM dari WAG Komunitas Plus. Awalnya, seperti gue bilang tadi, ragu untuk ikut, tapi akhirnya dua hari sebelum pendaftaran ditutup gue pun memberanikan diri mendaftar. Ga pake bilang apa-apa ke nyokap, langsung minta tandatangan untuk surat izin orang tua. Beruntungnya, nyokap ga nanya macem-macem dan langsung mengiyakan.

Lucunya gue tau lolos pun udah terlambat karena memory handphone penuh dan email ga otomatis ke sync. Baru tau pas dikabarin via WA oleh salah satu panitia. Ternyata pengumuman udah dari tanggal 8, yang mana itu udah dua hari lalu. Hari ini hari terakhir pengumpulan berkas nota kesepahaman, sedangkan konfirmasi bisa hadir atau engga hadir seharusnya terakhir kemarin tanggal 9. Bersyukur masih dikasih kesempatan sama panitia untuk tetep boleh ikut.

Awalnya gue juga udah sempet panik kepikiran nyari tiket kereta untuk berangkat ke Jogja. Tau sendiri dong cari tiket itu susyah susyah gampang, apalagi ini H-7 keberangkatan. Tapi kemudian gue inget, kan semua akomodasi dan transportasi dibiayai oleh C-Hub. Trus gue udah sempet juga kepo ke akun IG AKM, ternyata disana banyak komentar dari teman-teman yang lolos. Kepo sedikit dan taulah gue bahwa yang lolos ternyata keren-keren banget. Ada banyak yang sudah menjalankan usaha sosial dan aktif di kegiatan sosial. Minder pun menyerangggg..... but, hey, it’s time for me to learn more. Ketemu orang-orang keren artinya kesempatan buat gue untuk belajar dari mereka. Kapan lagi, ya kan? Gue ga boleh minder, gue harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Jadi ga sabarrrr......


Oh ya, sepertinya nanti selama sepuluh hari di Jogja peserta engga diperbolehkan menggunakan HP, semacem dikarantina gitu. Otomatis gue akan menghilang dari per-sosmed-an dan Flor Project akan tutup sementara. Jadi, seminggu ini akan gue pake untuk nyiapin kebutuhan selama AKM dan selesaiin orderan yang udah masuk.

Doakan semoga semua berjalan dengan lancar ya dan gue bisa kembali dari Jogja dengan selamat membawa ilmu-ilmu baru.

XOXO,


Adel. 

Senin, 02 April 2018

Tas Tenun Untuk Rumah Baca

Ternyata udah satu tahun lebih ga ngurusin blog. Kerinduan untuk nulis lagi sebenernya udah lama muncul, tapi baru hari ini beneran nulis lagi. Ada banyak cerita yang pengen di-share sih, tapi satu-satu ya. Kali ini mau membahas project ya baru aja gue lakuin, proyek sosial kecil-kecilan, yang lagi-lagi semua bermula dari keisengan. Iya, idup gue iseng banget isinya. Langsung aja ya...


Pertengahan tahun lalu, waktu lagi berselancar di Instagram, nemu sebuah akun yang ngejual kain tenun. Tenun yang dijual beragam sih, tapi yang paling gue suka itu tenun Sabu. Seperti namanya, tenun Sabu itu tenun yang berasal dari Pulau Sabu, NTT. Sama seperti kebanyakan tenun NTT, kain sabu didominasi warna hitam dengan aksen warna merah, putih, kuning. Sepengetahuan gue motif tenun ikat Sabu kebanyakan bermotif bunga (bunga palem). Gue pengen banget beli tenun Sabu itu untuk dijadiin totebag trus mau gue jual. Karena ga bisa jahit sendiri, gue minta tolong sama Miftah, temen kuliah yang juga jualan totebag. Bersyukur banget dia mau ngerjain disela-sela kesibukan dia kuliah S2. Waktu itu proses pembuatannya lumayan lama sih, 6 tas sekitar satu bulan kalo ga salah. Gue sendiri engga buru-buru juga karena selain belom yakin bakal laku dipasaran, juga sembari nabung uang buat bayar ongkos jahitnya.

Singkat cerita, tas itu jadi. Pengen gue jual, tapi awalnya gue ga pengen upload di Flor Project. Agak kurang pas aja gitu merasanya waktu itu. Sampe akhirnya bulan Oktober atau November, lupa, ada lapakan bareng Disti di IBN. Gue gelar tas itu di lapakan, tapi ga ada yang berminat, bahkan ibu-ibu dosen yang mampir ke booth kita pun engga tertarik. Agak panik dan sedih gitu, was-was kalo ga ada yang berminat padahal uang yang gue keluarin udah lumayan banyak. Tas tenun ini juga udah sempet dibawa ke Bandung dan difoto sama Elita, niatnya biar lebih menarik pembeli. Tapi kalo belom jodoh emang ya ada aja halangannya, foto-foto hilang karena hp gue rusak.


(foto dari hp Elita)



(tas batch 1)

Sampai pada akhirnya Desember kemaren gue bawa balik ke Klaten. Ditengah hari-hari selo dan membosankan di Klaten, tiba-tiba mood buat foto. Ya, ala kadarnya sih, karena ga ada yang bisa dijadiin sebagai model. Lalu muncul ide gimana kalo tas ini buat charity aja. Sebagian keuntungannya mau gue donasiin dalam bentuk buku untuk dikirim ke NTT. Alasannya masih sama, karena kecintaan gue sama NTT dan keprihatinan gue waktu berkunjung kesana. Akhirnya gue ajak kerja sama dengan @bagibuku_NTT, dan respon mereka positif banget. Dan karena engga tau lagi mau dijual dimana, ya sudahlah, lapak Flor Project pun tak apa. Toh emang Flor Project bermula dari niatan untuk berbagi dan mau gue bawa ke kerajinan yang lain, bukan gelang aja.

Momen paling deg-degan itu adalah momen setelah upload. Harap-harap cemas nungguin respon orang-orang. Ga lama setelah gue upload, di-repost sama @bagibuku_NTT. Dari situlah mulai muncul banyak DM instagram, dari yang cuma nanya harga, mau bantuin promo, sampe yang beneran mau beli. Daaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnn..... Cuma beberapa jam habis ludes 6 tas itu terjual. Masih banyak yang nanyain juga, tapi apa daya cuma punya 6 tas. Asli kaget, terharu. Ternyata banyak banget yang perduli, banyak yang membeli karena ingin berbagi. Gue yakin sih kalo bukan untuk donasi, ga akan selaris itu. Permintaan pun masih ngalir terus. Gue mulai mempertimbangkan untuk bikin lagi deh.



(tas batch 2)

Cuma jeda beberapa hari dari penjualan pertama, gue langsung menghubungin Miftah lagi dan minta buat produksi lagi, kali ini jumlahnya 2 kali lipat. Dia mau dan selesai cuma selang dua minggu. Awal februari gue upload lagi di IG dan lebih kaget lagi, karena yang nanya ga sebanyak batch pertama tapi langung habis hari itu juga. Pembelinya ada dua bapak-bapak yang masing-masing langsung ambil 4 tas. Uniknya, dua bapak-bapak yang beda pulau ini sama-sama pasrah untuk apa yang dia beli. Cuma bilang “Saya mau 4 tas ya mba, motifnya bebas apa aja”. Antara enak sama bingung ya. Enak karena cepet transaksinya sama bingung ngurusin pembeli yang lain, soalnya semua motif available tapi ga semua tas available. Ya gitulah, ada kerumitan tersendiri. Intinya tetep sama, sama takjubnya, banyak orang-orang keren yang baik hati banget.

Semua tas terjual, uang donasi terkumpul dan gue pun langsung ngacir ke toko buku. Awalnya ekspektasi gue adalah gue mau ke toko buku yang lagi sale di mall deket rumah, semacam buku-buku cuci gudang gitu. Kan lumayan, buku-bukunya masih bagus tapi harganya miring. Eh sampe disana ternyata udah ga ada lagi, udah ganti toko lain. Sempet bingung mau gimana, sementara tanggal pengiriman udah makin deket. Untungnya ada toko buku lain di mall itu, harganya ga miring amat sih, tapi lumayan lah, koleksi buku anak-anaknya banyak. Dari sini gue tau kalo ternyata buku anak itu muahaaallll... hahahha. Dengan uang donasi yang terkumpul cuma dapet sedikit, ga sebanyak yang gue bayangkan.


Buku udah kekumpul, hati udah sedikit lega, tapi kemudian gundah lagi, soalnya tanggal 17 itu hari sabtu dan.......... hari itu juga gue mau pergi sama anak-anak Nggambus ke Bogor. Ada dua hal yang gue takutkan. Pertama, kantor pos tutup, soalnya kadang kantor pos suka-suka jam bukanya. Kedua, gue mau kirimnya gimana, sementara gue di bogor. Nyokap sempet nawarin untuk dia aja yang akan kirim, tapi gue agak kurang sreg gitu, merasa kepuasan batin ilang kalo ga gue kirim sendiri. Halah, lebay! Akhirnya gue memutuskan, ya udah gue bawa aja itu paket kardus, nanti hari sabtu sebelom jalan mampir dulu tukang pos.

Puji Tuhan banget, niat baik selalu direstui sama semesta. Sabtu pagi bisa mampir ke kantor pos yang searah sama rute pergi kita. Walaupun sempet kebablasan karena plang kantor posnya super mini dan ketutupan sama plang yang lain, tapi bersyukur mas-mas tukang posnya ganteng. Eh...... maksudnya, bersyukur akhirnya bisa dikirim juga itu buku. Jalan-jalan pun aman terkendali tanpa rasa bersalah.

(buku-buku yang gue kirim setelah sampai di Rumah Baca Due Nga Donahu)

(tua dan muda, semua ikut membaca)




Donasi buku yang pertama ini gue putuskan untuk kirim ke BBNTT regio Sabu, alasannya sesimpel karena kain yang gue pakai adalah kain tenun sabu. Jadi sebenernya dari mereka dan untuk mereka juga, gue hanya membantu aja. Beberapa hari setelahnya dapet kabar dari Pastor Asmar (koordinator Buku Bagi NTT regional Sabu). Beliau ngabarin kalau buku-buku sudah diterima dan ngucapin banyak terima kasih. Ternyata pengiriman dengan POS Indonesia sekarang cepet juga ya.. Waktu baca pesan dari Pastor Asmar, gue seneng, terharu, penasaran dan pengen lihat langsung reaksi mereka. Gue jadi semakin pengen lebih sering bikin kegiatan ini dan terselip doa supaya nanti suatu saat bisa dateng langsung ke rumah baca Due Nga Donahu. ;')

Sementara proyek kecil ini berhenti dulu karena aku belom menemukan penjahit pengganti Miftah, yang masih mengejar cita-cita S2nya. Doakan supaya segera bisa menemukan penjahit ya dan bisa produksi lebih banyak dan bisa donasi lebih banyak juga. 



XOXO.

Senin, 06 Maret 2017

OHS DIY : Canvas Banner


Sedikit update: aku pindah kamar. Sekarang nempatin kamar yang dulu dipake tanteku. Awalnya nempatin kamar itu karena kamarku mau dicat ulang tapi kok ternyata kamarnya seru dan bentuknya yang persegi panjang bikin aku lebih bebas menempatkan barang dibandingkan dengan kamarku dulu. Akhirnya memutuskan untuk bertahan disitu aja. hahaha. 

Nah, karena kamar ini ga terlalu banyak jendela jadi area dindingnya luas banget dan terkesan sepi kalo ga dikasih hiasan apapun. Kepikiranlah buat bikin wall banner. Kalo di Pinterest sih nemunya kebanyakan dari flanel atau pake kanvas tapi disulam. Berhubung bahan yang tersedia di rumah adalah kanvas dan skill menyulamnya yang cuffuuuh jadilah putar otak bikin banner dari kanvas tapi dicat pake akrilik aja deh. 

DIY ini super hemat karena semua alat dan bahannya aku udah punya di rumah, jadi sama sekali ga ngeluarin uang kecuali buat ngejahit kanvasnya. Lagi pula inti dari bikin DIY itu kan membuat sesuatu yang bagus/indah/fungsional dari bahan-bahan yang ada di sekitar kita dan dengan pengeluaran seminim mungkin. Setuju ga?


Alat dan bahan yang dibutuhkan: 

Kain Kanvas 
(aku pake kain kanvas yang dulu didapet gratis pas minta contoh bahan di toko kain Niagara di Jogja)

Kayu/Tongkat
(aku pake tongkat pramuka sisa bikin hanger baju dulu waktu di kost, beli di tukang seragam/perlengkapan sekolah cuma 6k. Bisa diganti dengan ranting pohon yang udah kering dan dibersihkan.)

Desain
(aku bikin desain quote nya pake corel dan aku print dalam dua kertas A4) 

Kertas Karbon
(ini kertas yang biasa dipake penjahit buat gambar pola diatas kain, bisa dibeli di toko alat jahit, fungsinya buat transfer desain ke kanvas) 

Cat akrilik + kuas 
(udah lama dibeli tapi baru kali ini dipake, aku pake yang merk sakura)

Langkah-langkah pembuatannya: 

Pertama, potong kain kanvas sesuai ukuran yang diinginkan, lipat dan jahit bagian pinggir kanvas lalu lipat jadi dua dan jahit bagian atas kanvas (jangan lupa pastiin kalau kayu yang dipakai akan muat masuk ke bagian ini). Karena punyaku aku bawa ke tukang jahit dan salah ngukur besar lubangnya jadi disini agak kesempitan, usahakan agak sedikit lebih lebar biar lebih rapih. 
Kalau kalian mau bagian bawah banner berbentuk segitiga, kalian bisa potong dan jahit bagian bawahnya. Disini, aku biarin bagian bawahnya tidak dijahit biar keliatan rumbai-rumbai kanvasnya.

Kedua, siapin dulu desain yang mau dibuat. Kalian bisa buat di corel atau photoshop atau aplikasi lainnya, sesuaikan ukurannya dengan ukuran canvas kalian. Lalu print. Karena size bannerku agak besar, jadi aku cetak dalam 2 kertas ukuran A4,

Ketiga, salin desain kalian di atas kanvas dengan bantuan kertas sablon. Pastiin kertas sablon kalian menghadap ke arah yang benar dan pakai pensil kayu yang udah tumpul supaya memudahkan kalian dalam menyalin desain. Pengalamanku pakai pinsil mekanik agak susah karena putus terus isi pensilnya. 


Keempat, warnai desain kalian dengan cat akrilik. Supaya warnanya terlihat lebih bagus, bisa dicat ulang lagi. Sedikit tips, letakkan pembatas di antara kain kanvas supaya cat tidak tembus ke bagian belakang.

Kelima, pasang kayu kedalam banner, lalu pasang tali disisi kiri dan kanan kayu. 

Udah deh, selesai, langsung bisa digantung buat mempercantik tembok kamar kamu. 


Supaya bisa lebih cantik, mungkin kamu bisa tambahkan tassel warna-warni dibagian bawah banner. 

:)

Selasa, 10 Januari 2017

Aku Rindu Pulang


Nemuin ini di youtube, merinding mendengarkan Mas Tikyo bercerita tentang kerinduannya pada Flores. Mungkin karena aku juga merasakan apa yang dirasakannya.


"Aku rindu pulang
pulang ke tanah Flores
meski darah yang mengalir dalam tubuh ini bukan berasal dari pulau itu 
bukankah seberapa pun jauh kaki ini melangkah
rumah adalah tempat terindah untuk pulang 
dan buatku...
Flores adalah rumah."

Semoga di 2017 ini aku bisa pulang....

Rabu, 09 November 2016

Anak-anak Timur

Semalam, saya tiba-tiba rindu dengan anak-anak flores. Lalu saya buka lagi foto-foto sewaktu saya disana. Ah, rindu sekali. Rindu dengan desanya, dengan penghuni desanya, dengan makanan khasnya, dengan keceriaan dan semangat anak-anaknya… kapan saya bisa bertemu mereka lagi?



Lalu pagi ini, selepas meninggalkan rumah untuk bekerja, saya mendengarkan salah satu radio nasional sedang membicarakan tentang Bapak Budi Soehardi. Seorang pensiunan pilot yang mendedikasikan waktunya untuk mengurus anak-anak asuh dalam naungan Yayasan Kasih Roslin yang dibangunnya di tahun 2002. Ini tentu bukan kali pertama saya mendengar kisah tentang Pak Budi dan kebaikan hatinya. Tapi percakapan di radio yang saya dengarkan pagi ini ternyata sanggup membuat mata saya berkaca-kaca. Hati saya bertanya untuk kesekian kalinya: kapan kamu bisa melakukan hal yang sama? Ada kerinduan yang luar biasa dalam diri saya untuk kembali menjumpai anak-anak di kawasan NTT atau NTB dan berbagi bersama dengan mereka. Lalu saya hanya bisa menjawab: ‘Bersabarlah, del. Mungkin ini belum waktu yang tepat bagimu, tetaplah berusaha, tetaplah berjuang dan tumbuhkan terus keinginanmu itu. Percayalah Tuhan akan mendengarkannya dan kelak kamu akan melakukannya’.

Ya, sudah lama saya ingin bisa berbagi dengan saudara-saudara di timur sana. Namun, melihat kondisi saya saat ini, belum banyak yang bisa saya lakukan. Saya hanya bisa mencari tahu yayasan-yayasan yang dibangun untuk membantu pengembangan masyarakat dan pendidikan disana. Setiap kali saya menemukan kegiatan-kegiatan baru, saya selalu merasa senang karena ternyata ada banyak orang yang perduli sekaligus sedih karena saya belum bisa mewujudnyatakan keinginan saya. Satu-satunya yang saya bisa lakukan adalah dengan memberikan donasi, tidak banyak memang, tapi saya harap itu bisa berguna bagi mereka.


Baru-baru ini saya menemukan sebuah situs berbagi kitabisa.com. Situs ini merupakan situs gotong royong digital untuk menghubungkan kebaikan, menjembatani mereka yang ingin membantu dengan mereka yang membutuhkan bantuan. Melalui situs ini kita bisa memilih sendiri kegiatan atau campaign yang ingin kita support. Kita juga bisa membuat penggalangan dana kita sendiri untuk orang yang ingin kalian bantu. Situs ini juga ternyata digunakan oleh Pak Budi dan Yayasan Kasih Roslin untuk mengumpulkan donasi. Kalian bisa cek disini. Yuk, berbagi rejeki dengan mereka! Tidak perlu kelimpahan materi untuk bisa berbagi dan tak perlu cemas kalian akan kekurangan, karena dengan berbagi kalian tak akan kekurangan sesuatu apapun. J

Senin, 10 Oktober 2016

#florbirthdaygiveaway


Hollaaaa.... 

Flor mau ulang tahun yang pertamaa. Yaiy! Ga berasa banget ya ternyata 15 Oktober nanti Flor udah genap satu tahun berjalan. Emang sih, belum banyak yang terjadi dengan Flor selama satu tahun itu, but still I'm happy.. 

Gue merasa bahwa flor udah banyak.. errr ga banyak banget sih, bertransformasi. Yang mulanya cuma hobi, iseng-iseng dijualin, dan sekarang bisa berjalan satu tahun dengan semua fase naik-turunnya. 

Yang tadinya double thread beralih jadi single thread, yang tadinya pake loop end sekarang pake adjustable karena ternyata ga semua orang ngerti cara make loop end.

Yang tadinya fotonya asal-asalun, sedikit demi sedikit membaik dan gue masih berusaha untuk meningkatkan jadi lebih baik lagi. 

Yang tadinya cuma sedikit pola, sekarang udah semakin banyak dan akan semakin banyak lagi kedepannya. 

Apapun yang udah dicapai sama Flor dari awal dimulainya sampai diusianya yang hampir satu tahun ini, gue merasa bangga. Karena Puji Tuhan, semua perjuangan itu gue lalui.

Dari yang seneng setiap dapet tanggapan positif dari customer sampe dapet customer yang 'rewel'. Puji Tuhan juga, belum pernah dapet customer yang marah atau kecewa. Jangan sampai ada.

Dari yang bisa ngerjain sehari dapet banyak gelang sampai satu gelang baru selesai setelah beberapa minggu karena waktu yang ga memungkinkan.

Dari nyari benang ke satu toko sampe ke toko lainnya, toko lainnya, toko lainnya dan toko lainnya lagi..... 

Banyak deh pokoknya cerita tentang Flor. 

daaaaaannnnnnnnn...................... 
Untuk merayakannya, Flor bikin giveaway!

Giveaway ini adalah ucapan syukur dan terima kasih buat semua yang support Flor, yang ga berhenti kasih masukan, yang selalu jadi pemerhati, yang selalu memberi tantangan buat Flor untuk bertumbuh jadi lebih baik. 


Detil giveawaynya ada di instagram Flor ya! 

Buruan ikut karena masih ada waktu sampai tanggal 16 Oktober. Pemenang akan diumumkan tanggal 19 Oktober dan bisa dapetin 3 gelang gratis. yuhuuuu! Jangan sampe kelewatan. 


Once again,
Terima Kasih, semesta.

Minggu, 02 Oktober 2016

Membungkus Kado Kreatif Ala..... Alakadarnya.



Hi again! 

Beberapa waktu lalu gue ngerapihin kamar yang udah sejak gue pindah ke jogja buat kuliah, ga pernah gue pake. Sejak selesai kuliah pun gue ga tidur disitu karena lebih sering dipake sama eyang gue. Trus gue tidur di mana? Di mana aja sesuka gue, di sofa, di lantai, di garasi, di genteng. hahaha.

Fokus utama gue buat dirapihin adalah lemari buku, karena itu yang paling banyak isinya. Dan dari situlah gue nemuin beberapa buku yang masih dalam kondisi bagus tapi sepertinya gue ga pengen simpen lebih lama dilemari. Soalnya menurut gue, ilmunya bagus dan sayang banget sih kalo ngejogrok aja gitu di kamar. Mending dikasih ke orang lain. So, jadilah gue lempar buku-buku ini ke salah satu grup di whatsapp gue. Ternyata responnya di luar dugaan, ternyata banyak yang mau bahkan ada yang pengen buku yang sama. Berhubung bukunya cuma ada satu jadi gue suruh mereka untuk gantian aja. Hehehe. 



Karena posisi mereka yang jauh-jauh dari lokasi gue plus gue ga yakin kita bakalan ketemu dalam waktu dekat, jadi gue putusin buat dikirim via kurir aja. Lalu beberapa hari kemudian gue sempet mampir ke toko alat tulis dan nemuin brown paper, maka tercetuslah ide buat bungkusin buku-bukunya pake brown paper. Selesai dibungkusin, kok rasanya plain banget, biasa banget, ga seru kalo cuma dibungkus doang. Oke, ditambahin sesuatu ah biar seru. 

Berhubung saya menganut prinsip hemat pangkal kreatif, jadi make barang-barang yang ada di rumah aja deh. Kemudian bongkar-bongkar kotak craft dan nemuin beberapa barang yang bisa dipake kayak doily paper dan tali kulit. Tapi dua itu aja ga cukup deh kayaknya, masih biasa banget. Eh, ada seonggok penghapus tak terpakai beserta bantalan stempel punya bokap. Sikat ajalah! 
  
Idenya mau bikin stempel yang lucu-lucu gitu pake cutting pen (sekalian nyobain cutting pen baru hasil nitip dibeliin sama Disti di Toko Merah Jogja. Iya, Jogja banget. Hahaha), tapi berhubung anaknya ga gitu pinter gambar dan mau bikin stencil ribet jadi ya udah yang simpel aja bikin segitiga trus di cap random di atas brown paper-nya. Itu pun masih berantakan banyak bocornya karena kurang pede motong dalem-dalem. Tapi ya sudahlah ya, not bad lah untuk percobaan pertama. Trus biar makin manis gue tali pake tali kulit dan gue kasih tag dari tag yang biasa gue pake buat Flor. hehe. Dan beginilah hasilnya....


Next, masih dengan tali kulit dan stempel cuma kali ini berbeda warna dan berbeda cara. Lebih simpel sih, cukup lilitin tali pink secara mendatar tapi dibuat ga simetris trus diiket pita biasa. Berhubung stok tali yang dipunya pendek tapi ada beberapa jadilah lilitannya dibikin dari dua tali. Trus biar ga polos banget dikasih stempel dibagian bawahnya, dibikin zigzag.  


Kado ketiga, gue pake doily paper. Awalnya sih idenya cuma mau dikasih doily paper aja diujung-ujungnya dan dibikin asimetris. Tapi ngeliat hasilnya kok biasa banget ga seru, jadilah ditambahin tali sama tag. Kali ini talinya cuma mendatar dan satu kali aja biar ga too much. Gue lupa ini nama talinya tali apa, tapi dia diameternya gede dan licin mengkilap gitu. Trus tagnya pake tag Flor juga, cuma yang ini tag yang gede. 



Kelar dengan tiga kado tadi, gue udah mulai kehabisan ide. Bingung mau diapain lagi dan mau pake bahan apalagi. Setelah mata gue mengitari seisi ruangan, nyari sesuatu yang bisa dipake, berpautlah pandangan gue pada buku Stories for Rainy Days-nya Kak Naela Ali yang baru dibeli beberapa hari lalu di Gramed (btw, it's a good book, you might want to have one. hehe). Di dalemnya ada banyak ilustrasi yang dibuat sendiri oleh Kak Naela. Trus gue inget di dalemnya ada satu bab yang membahas tentang buku dan ada ilustrasi cewe membaca buku. Jadilah gue foto copy ilustrasinya dan gue potong trus gue tempel. Trus gue tambahin dengan quote yang nyomot dari pinterest.


Dari semua kado, bungkus kado terakhir ini yang paling gue suka dan juga yang paling simpel. Quotenya sesuai sama isi bungkusannya trus gambar cewenya sesuai sama orang yang akan nerima bukunya. Semoga Kak Naela ga keberatan ya ilustrasinya gue pake buat dijadiin bungkusan. haha. Oh ya nanti akan gue tulisin di bawah gambarnya, biar yang nerima juga tau kalo itu ilustrasinya Kak Naela. 

Oke, itu tadi bagian cerita bikin gift wrapping sedikit tidak membosankan. Dan di bawah ini adalah paragraf pengakuan yang mungkin tidak menyenangkan. 

Semua buku-buku ini udah kelar dibungkus cantik dari seminggu yang lalu (lebih kayaknya) tapi belom dikirim-kirim juga. Hahahahahahahahaha... kebayang ga sih kalo lo jadi orang yang mau dikirimin, udah seneng gitu mau dikasih buku, berharap-harap pengen cepet baca, eh bukunya belom dikirim. 
*nyengir kecut*


Sebenernya sih udah siap aja kalo mau dikirim, tapi dasarnya anaknya sok crafty sok nyeni sok surprise sok spesial gitu, jadinya pengennya dibikinin surat gitu. Berharapnya sih nanti pas nerima buku ini dan baca suratnya mereka bisa nyengir (nyengir bahagia ya bukan nyengir kecut). 

Minggu ini, janji.

Rabu, 14 September 2016

Pahawang Getaway


Bulan Juni yang lalu, kaki gue udah gatel banget pengen ngebolang ke tempat baru. Kulit gue udah terlalu putih saking udah lama diem di rumah terus. Gue pengen menarik diri dulu sebentar dari semua urusan kerjaan, urusan rumah dan urusan asmara, my brain need a rest. Tapi waktu itu gue bingung, mau pergi sama siapa. Gue butuh temen hahahihi yang nyeleneh yang ga akan ngejudge gue dengan apa yang gue akan lakukan diliburan gue nanti. Temen kantor? Big NO! Yang ada liburan gue bakal ngomongin kerjaan. Temen kuliah? Yang seru diajak jalan pada di Jogja semua. Temen satu geng? Sibuk kerja dan naracap sendiri-sendiri. Sampai suatu hari gue ketemu sama keluarganya Dita, temen gue SMA, tapi waktu itu Dita-nya ga da, doi lagi di Bali. Oh ta..... angkut gue ke Bali juga pleasee..... Gue pikir-pikir kayaknya Dita bisa nih jadi temen yang asik buat diajak jalan. Ga pake lama, gue ajakin aja doi jalan, eh dianya mau tapi setelah balik dari Bali dan dia ngajak temen kuliahnya. Okay, langsung nentuin destinasi, tanggal dan nyari open trip. Kenapa milih open trip? Karena gue ga mau ribet, waktu terbatas plus kita cewe semua.

So, off we go to Pahawang!
 

 


Gue ga akan cerita run down kegiatan gue disana ngapain aja, open trip yang gue pake apa, apa fasilitas yang gue dapet, gimana perjalanannya, blablabla. Blog gue bukan travel blog dan gue ga dapet endorse dari EO, plus gue yakin ceritanya bakal panjang banget,kalian pasti bosan bacanya. Disini gue cuma akan ngasih kalian tips buat bikin perjalanan open trip lo menyenangkan.
 
Pertama, pergi sama temen-temen yang emang klop sama lo, itu penting. Banget! Tujuan lo liburan adalah seneng-seneng, kalo perginya aja udah dengan orang yang salah, buat apa? Kedua, ga usah bawa banyak baju, karena lo mau snorkeling bukan mau photo shoot atau ke pesta. Make up? Don’t ever think about it! Cewe harus tampil cantik? Betul! Tapi cewe cerdas tau menempatkan diri, kapan harus dandan menor dan kapan biasa-biasa aja. Ketiga, deket-deketlah sama pemandu kalian. Serius, ini berguna banget! Pengalaman gue kemaren, gue banyak dibantu sama tour leader gue (TL). Selain dapet banyak foto dan bisa nanya banyak hal tentang pahawang atau rangkaian kegiatannya, kita juga dapet special treatment gitu. Dan yang paling penting, lu ga perlu terlunta-lunta nunggu lama.

Cerita gue kemaren adalah pas perjalanan kita balik dari ketapang ke bakaheuni adalah semua peserta yang udah ready diberangkatin duluan, sementara kitanya ngintil TL sembari nikmatin pantai dan makan. Peserta yang udah diberangkatin duluan harus nunggu TL-nya dateng dari siang sampe malem di bakaheuni, sementara kitanya santai dan jadi bagian yang ditunggu. Hahaha.
 
Secara keseluruhan sih gue enjoy sama liburan kali ini, lumayanlah bisa buat nyegerin pikiran. Tapi kayaknya sih gue lebih milih liburan sendiri sama temen-temen dibanding ikut open trip, lebih bebas buat explore. 


See you on the next trip!

Jumat, 09 September 2016

Tambora The Trail of Ancestor

Buat beberapa orang yang memperhatikan, pasti tau kalo aku sukanya posting tentang perjalanan atau alam di akun instagram pribadiku (tapi emangnya ada yang perhatiin? ada lah, pasti ada!). Karena aku suka dengan alam makanya aku banyak mem-follow akun-akun travel blogger, salah satunya Mba Atre (dan Mas Giri pastinya). Sebenernya udah lumayan lama tau dan follow Mba Atre, tapi baru hari ini sempet kepo-in blognya Mba Atre dan nemuin postingan ini.

Meskipun agak telat, tapi seneng banget bisa nemuin satu lagi karya anak Indonesia yang bikin bangga jadi orang Indonesia, yang menggugah hati buat lebih kenal sama kekayaan negeri kita. Yang bikin gue makin ga betah di rumah dan pengen kelayapan teruuuusssss.... 

"Pico Iyer thought that traveling was a way 
to get something that cannot be found at home. 
I think, traveling is a way to remind us again 
of something precious 
that we forgot in our home."

Film ini menceritakan seorang junalis perempuan bernama Nadya, seorang keturunan Jerman berkebangsaan Indonesia. Di sini Nadya mencari tahu tentang leluhurnya dan alasan kenapa mereka bermigrasi keluar dari Jerman berpindah ke Amerika dan akhirnya bisa sampai ke Indonesia. 

Menurut gue, film ini sedikit berbeda. Tidak sama dengan film-film yang menceritakan kisah petualangan lainnya yang biasanya menonjolkan pemandangan-pemandangan alam yang indah, film ini lebih menonjolkan cerita dan sejarah Tambora itu sendiri. Kita diajak untuk kenal dan belajar tentang Tambora, bagaimana letusannya di tahun 1815 berdampak sangat besar bagi dunia terutama Kawasan Eropa kala itu.

Silahkan ditonton! 


Cast:

Gemala Hanafiah as a Nadya

Alvi Zarkasya as a Joje

Dean Ade as a Sa'e Arga
Producer: Gilang Tamma

Director, DoP, Editor: Giri Prasetyo

Assistant Director: Sukma Kurniawan
Scriptwriter: Astri Apriyani